Telepharmacy di Indonesia solusi dan tantangan

telepharmacy-indonesia

Telepharmacy di indonesia sebagai solusi dalam memberikan layanan kefarmasian sudah lama menjadi bahan diskusi dan bahkan sudah dalam tahapan implementasi di beberapa layanan kesehatan.

Telepharmacy itu sendiri berdasarkan pengertian dari wikipedia adalah pemberian layanan kefarmasian melalui penggunaan teknologi telekomunikasi kepada pasien yang berada dilokasi dimana tidak dapat bertemu secara langsung dengan apoteker.

Kenapa pasien tersebut tidak bisa betemu dengan apoteker? hal ini bisa disebabkan oleh banyak faktor. Misalnya lokasi pasien berada di daerah pedalaman atau kepulauan yang sulit di akses atau memang di daerah tersebut kekurangan tenaga apoteker. Kondisi tersebut bisa terjadi di semua negara termasuk di Indonesia.

Diskusi selanjutnya adalah bagaimana implementasi Telepharmacy di Indonesia? apakah Telepharmacy bisa diterapkan sebagai solusi dalam layanan kefarmasian? kemudian apa saja tantangan yang mungkin akan dihadapi dalam penerapan Telepharmacy tersebut?

Penerapan teknologi dalam pelayanan kesehatan di Indonesia sebenarnya sudah diatur oleh pemerintah melalui peraturan mentri kesehatan no 20 tahun 2019 mengenai Penyelenggaraan Pelayanan Telemedicine Antar Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Pada Permenkes tersebut dijelaskan bahwa Telemedicine adalah pemberian pelayanan kesehatan jarak jauh oleh profesional kesehatan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, meliputi pertukaran informasi diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit dan cedera, penelitian dan evaluasi, dan pendidikan berkelanjutan penyedia layanan kesehatan untuk kepentingan peningkatan kesehatan individu dan masyarakat.

Terkait dengan Telepharmacy pengaturannya terdapat dalam Pasal 3 ayat (1) poin e yaitu pelayanan konsultasi Telemedicine lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan Pasal 9 ayat (1) poin c terkait dengan sumber daya pemberi konsultasi tenaga farmasi termasuk dalam tenaga kesehatan lain.

Untuk layanan kesehatan yang dilakukan oleh dokter menggunakan media teknologi menurut kami sudah banyak atau mungkin sudah dilakukan oleh banyak penyedia, seperti yang dilakukan dalam layanan Halodoc dan Alocdoc seperti yang sudah kita bahas sebelumnya.

Akan tetapi untuk implementasi Telepharmacy menurut kami belum terlalu banyak atau mungkin kalau boleh dikatakan belum ada.

Mungkin pertanyaannya adalah apa saja yang bisa dilakukan dalam Telepharmacy? apa saja layanan yang bisa dilakukan dalam Telepharmacy?

Ruang lingkup layanan kefarmasian yang bisa dilakukan dengan Telepharmacy menurut kami yang paling utama adalah pemanfaatan teknologi video conference dalam memberikan konsultasi obat kepada pasien.

Layanan ini sebagai solusi kepada pasien yang tidak memiliki kemampuan untuk bertemu secara langsung dengan apoteker ataupun karena kondisi di daerah tersebut tidak memiliki apoteker.

Penyediaan layanan konsultasi obat menggunakan teknologi video confrence ini dapat dilakukan dengan kerjasama antara fasilitas kesehatan. Fasilitas kesehatan yang memiliki personil apoteker di bagian farmasi akan memberikan layanan konsultasi obat kepada pasien di fasilitas kesehatan yang tidak memiliki personil apoteker.

Mekanisme kerjanya adalah pasien memberikan resep obat kepada tenaga kesehatan dan kemudian tenaga kesehatan tersebut akan menaruh resep obat untuk di scan atau di foto pada sebuah alat yang terkoneksi dengan perangkat di fasilitas kesehatan yang memiliki tenaga apoteker.

Scan atau foto resep obat dan juga foto obat yang sudah siapkan sesuai resep obat tersebut dikirim dan apoteker di tempat yang lain akan membaca resep obat,melihat obat yang sudah disiapkan oleh tenaga keseharan dan memberikan layanan konsultasi obat kepada pasien menggunakan video conference.

telepharmacy-indonesia
(image source from https://www.caprockcourier.com/2018/04/24/telepharmacy-to-open-at-cogdell-clinic-in-silverton/)

Tantangan dalam implementasi Telepharmacy dalam layanan video conference ini adalah kondisi dari infrastruktur internet di Indonesia yang tidak sama. Ada wilayah yang sudah baik, ada yang masih belum baik dan mungkin bahkan ada yang masih belum memiliki jaringan internet sama sekali.

Penggunaan video conference sudah pasti memelukan ketersediaan kecepatan jaringan internet yang cukup sehingga tidak akan mengganggu pemberian layanan konsultasi obat.

Selain memerlukan koneksi internet yang baik, untuk penggunaan teknologi video conference juga memerlukan perangkat yang memiliki spesifikasi yang cukup.

Perangkat yang digunakan sangat tergantung dari aplikasi atau media apa yang digunakan dalam penerapan video conference tersebut. Pada umumnya memerlukan perangkat komputer, kamera yang terhubung dengan komputer dan alat yang dapat melakukan scanning resep obat.

Ini yang menjadi tantangan dalam penerapan Telepharmacy yaitu mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk penyediaan perangkat.

Anda bisa bayangkan berapa banyak jumlah puskesmas di Indonesia? sebagai contoh misalkan ada 100 puskesmas maka jika diasumsikan harus memiliki 1 set yang terdiri dari komputer, camera dan alat scan maka akan membutuhkan 100 set.

Misalkan untuk total satu set membutuhkan biaya maksimal rp 10.000.000 maka akan membutuhkan biaya rp 1.000.000.000. Biaya ini belum termasuk biaya untuk langganan koneksi internet.

Selain biaya hal yang juga menjadi tantangan dalam implementasi Telepharmacy di Indonesia adalah kebijakan pemerintah dan juga aturan atau SOP dalam mendukung pelaksanaan Telepharmacy.

Menurut kami perlu adanya kebijakan pemerintah mengenai standar penerapan Telepharmacy dan juga SOP di fasilitas kesehatan dalam pelaksanaan Telepharmacy.

Meskipun ada tantangan menurut pendapat kami penerapan Telepharmacy di Indonesia dapat menjadi solusi dalam pemberian layanan kefarmasian kepada pasien yang berada di wilayah yang memiliki kendala terhadap akses untuk bertemu dengan apoteker.

Apalagi wilayah Indonesia adalah wilayah kepulauan dengan jarak yang berjauhan dan tidak bisa dipungkiri bahwa masih tidak meratanya layanan serta fasilitas membuat Telepharmacy ini menjadi solusi dalam pemberian layanan kefarmasian.

Biaya penerapan yang mahal mungkin bisa dilakukan dengan melakukan efesiensi agar tidak terlalu mahal. Sebagai contoh dapat menggunakan perangkat yang ada di fasilitas kesehatan tersebut sehingga tidak perlu membeli perangkat baru.

Penggunaan aplikasi yang sudah ada seperti whatsapp yang memiliki fitur video call juga dapat digunakan sebagai media sehingga tidak membutuhkan perangkat khusus, Email juga dapat digunakan sebagai media alternatif meskipun tidak real time.

Selain itu juga dapat menggunakan perangkat radio dalam pemberian layanan konsultasi obat pada daerah-daerah yang memang masih belum ada jaringan internet dimana resep obat dapat dibacakan oleh tenaga kesehatan karena belum tentu pasien tersebut bisa membaca resep obat.

Demikian tulisan kami mengenai Telepharmacy di Indonesia sebagai solusi dan juga tantangan dalam pemberian layanan kefarmasian di Indonesia. Semoga bermanfaat untuk anda. Jangan lupa memberikan komentar anda terkait Telepharmacy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *